Semangat Kemerdekaan Jadi Momentum Perkuat Kesejahteraan Psikologis Guru

Jakarta, 12 Agustus 2026 — Guru tangguh bukanlah guru yang dituntut untuk terus bertahan menghadapi tekanan tanpa batas. Ketangguhan guru harus dibangun bersama dengan kesejahteraan psikologis, dukungan lingkungan kerja, perlindungan, serta kesempatan untuk terus berkembang.

Pesan tersebut disampaikan dalam sambutan Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Arif Jamali, S.Pd., M.Pd., yang diwakili oleh Kepala Subdirektorat Peningkatan Kapasitas, Perlindungan, dan Pengendalian Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Eneng Siti Sa’adah, S.Si., M.B.A., pada pembukaan Webinar “Bangkit Bersama Guru Tangguh: Membangun Kesejahteraan Psikologis dan Semangat Kemerdekaan Indonesia”, Rabu (12/8/2026).

Dalam sambutan yang dibacakan tersebut ditegaskan bahwa guru memiliki posisi strategis dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan menyiapkan generasi penerus bangsa. Karena itu, guru tidak cukup hanya dibekali kompetensi pedagogik dan profesional, tetapi juga membutuhkan ketangguhan, kemampuan beradaptasi, serta kesejahteraan psikologis yang memadai.

Perubahan dunia pendidikan, perkembangan teknologi, dinamika peserta didik, dan meningkatnya tuntutan pekerjaan mengharuskan guru mampu mengelola diri, menjaga motivasi, membangun relasi yang sehat, serta tetap menemukan makna dalam menjalankan profesinya.

Karena itu, kesejahteraan psikologis perlu menjadi bagian integral dari penguatan ketangguhan dan keberlanjutan pengabdian guru.


Diikuti Guru dari Seluruh Indonesia

Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Kesejahteraan, dan Penghargaan, Dr. Ahmad Budidarma, S.Kom., M.M., dalam laporan pelaksanaan kegiatan menyampaikan bahwa webinar tersebut merupakan bagian dari upaya Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus untuk memberikan ruang penguatan kesejahteraan psikologis sekaligus membangun semangat dan ketangguhan guru dalam menjalankan tugas pengabdian.

“Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru dari seluruh Indonesia. Selain itu, kami juga mengundang para kepala dinas pendidikan provinsi, kepala dinas pendidikan kabupaten/kota, serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan,” ujar Ahmad Budidarma.

Menurutnya, pelibatan berbagai pemangku kepentingan pendidikan tersebut penting karena kesejahteraan psikologis guru tidak dapat dibangun hanya oleh guru secara individual. Diperlukan dukungan ekosistem pendidikan yang melibatkan satuan pendidikan, pemerintah daerah, UPT, serta pemangku kepentingan lainnya.

“Harapannya, pesan dan pengalaman yang diperoleh melalui webinar ini tidak berhenti pada peserta, tetapi dapat diteruskan dan menjadi bagian dari upaya bersama dalam membangun lingkungan pendidikan yang sehat, suportif, dan mampu merawat guru,” tambahnya.


Ketangguhan Bukan Bertahan Tanpa Batas

Dalam sambutan tersebut, ditekankan bahwa ketangguhan tidak boleh dimaknai sebagai tuntutan agar guru selalu kuat dan menghadapi seluruh tekanan seorang diri.

“Ketangguhan yang sehat berarti mampu mengenali tekanan, mengelola respons, mencari dukungan ketika diperlukan, belajar dari pengalaman, dan kembali menjalankan peran dengan kesadaran bahwa pekerjaan yang dilakukan memiliki makna.”

Pandangan ini menempatkan guru sebagai manusia yang juga memiliki kebutuhan untuk mendapatkan dukungan, beristirahat, memulihkan diri, dan berkembang.

Kesejahteraan psikologis guru karena itu tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada individu. Kepala sekolah, pengawas, pemerintah daerah, komunitas pendidikan, dan seluruh lingkungan kerja memiliki peran dalam menciptakan ruang yang memungkinkan guru bekerja secara sehat, aman, berkembang, dan bermakna.


Belajar dari Jenderal Soedirman

Momentum kemerdekaan dalam kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk merefleksikan ketangguhan melalui sosok Jenderal Besar TNI Soedirman.

Sebelum dikenal sebagai Panglima Besar TNI, Soedirman merupakan seorang guru di HIS Muhammadiyah Cilacap. Pengalaman sebagai pendidik menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan kecintaan kepada tanah air.

Keteladanan Soedirman menunjukkan bahwa nilai yang dibangun melalui pendidikan dapat memberikan pengaruh jauh melampaui ruang kelas.

Keteguhan, kedisiplinan, keberanian, kesederhanaan, kepemimpinan, cinta tanah air, dan semangat pengabdian menjadi nilai yang relevan bagi guru Indonesia dalam menghadapi perubahan zaman.

Perjalanan Soedirman juga memberikan pesan bahwa perubahan besar dapat berawal dari pengabdian yang dilakukan secara sungguh-sungguh di ruang pendidikan.


Mengisi Kemerdekaan melalui Pendidikan

Dalam sambutan tersebut juga ditegaskan bahwa semangat kemerdekaan perlu dimaknai dalam konteks pengabdian guru.

Jika para pendahulu bangsa berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka tugas generasi saat ini adalah mengisi kemerdekaan dengan memastikan lahirnya manusia Indonesia yang mampu berpikir kritis, berkarakter, hidup bersama secara bermartabat, dan terus belajar sepanjang hayat.

Mengisi kemerdekaan melalui pendidikan bukan sekadar menyelesaikan kurikulum. Pendidikan harus memberikan ruang kepada setiap anak untuk merasa dihargai, berkembang, berani bermimpi, dan memiliki harapan terhadap masa depannya.

Karena itu, guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembangun karakter dan pemberi harapan bagi generasi masa depan.


Membangun Ekosistem yang Merawat Guru

Webinar tersebut menegaskan pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya menuntut guru untuk berkinerja tinggi, tetapi juga memberikan dukungan agar mereka mampu bekerja secara sehat dan berkelanjutan.

Penguatan kesejahteraan psikologis perlu berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi. Guru perlu mendapatkan ruang untuk belajar, berkolaborasi, memperoleh dukungan ketika menghadapi kesulitan, serta membangun kembali kepercayaan diri dan kebanggaan terhadap profesinya.

Webinar menghadirkan Letkol Inf. Freddy A. R. Simanjuntak, S.Psi., M.Psi., M.Han., Psikolog, Kepala Psikologi Kopassus, sebagai narasumber. Kegiatan juga diikuti jajaran Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, pemerintah daerah, UPT, serta guru dari berbagai wilayah Indonesia.

Melalui momentum kemerdekaan, kegiatan ini membawa pesan bahwa merawat guru sebagai manusia merupakan bagian dari merawat masa depan pendidikan Indonesia.

Guru boleh lelah. Guru boleh membutuhkan dukungan. Guru membutuhkan ruang untuk memulihkan diri. Namun dengan ekosistem yang sehat, guru dapat kembali bangkit, belajar, dan memberikan yang terbaik bagi peserta didik.

Pada akhirnya, guru tangguh bukan guru yang tidak pernah lelah, melainkan guru yang mampu bangkit, saling menguatkan, dan terus menghadirkan harapan bagi anak-anak Indonesia.

Tonton selengkapnya ditautan berikut : https://www.youtube.com/live/UGdL-zlDlcg?si=DMdLnxm4EI93_sPI


Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

1000 Karakter tersisa

Related Articles

Related

Mengenal Nyadran dan Hubungannya dengan Kesadaran Kolektif

Nyadran, sebuah tradisi yang selama ini kita pahami sebagai warisan budaya, mungkin juga dapat menawarkan titik acuan bagi kita untuk membayangkan bagaimana respons kolektif terhadap perubahan iklim dapat dibangun.

Read More

Related

Beyond Self-Interest: Gandeng-Gendong and the Social Logic of Reciprocity

Pesanan makanan dalam jumlah besar biasanya menjadi kabar baik bagi produsen skala kecil. Itu berarti tambahan penghasilan, peningkatan pekerjaan, pelanggan baru, dan—jika berjalan lancar—peluang untuk mengembangkan usaha yang umumnya hanya beroperasi di pasar sekitar lingkungan rumah. Respons intuitifnya tampak sederhana: ambil peluang tersebut, penuhi pesanan sebanyak mungkin, dan dapatkan keuntungan ekonominya. Bahkan ketika kapasitas produksi tidak mencukupi, solusi bisnis konvensional adalah menambah tenaga kerja, mengoper sebagian pekerjaan (subcontract), atau mencari pengaturan lain yang tetap memungkinkan produsen awal mengantongi sebagian nilai tambah dari pesanan tersebut.

Read More

Related

Gufron Rum : PBNU Perlu Memperkuat Tata Kelola Sosial dari Tingkat Mikro di Era Multiketidakpastian

Menghangatnya kontestasi kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar tidak hanya perlu dipandang sebagai pergantian figur Ketua Umum. Momentum tersebut menjadi ruang penting untuk membicarakan kembali tantangan organisasi NU dalam merespons perubahan sosial yang makin kompleks—mulai dari fragmentasi masyarakat, tekanan ekonomi, perkembangan teknologi, krisis lingkungan, hingga meningkatnya ketidakpastian global.

Read More