Mengenal Nyadran dan Hubungannya dengan Kesadaran Kolektif

Nyadran, sebuah tradisi yang selama ini kita pahami sebagai warisan budaya, mungkin juga dapat menawarkan titik acuan bagi kita untuk membayangkan bagaimana respons kolektif terhadap perubahan iklim dapat dibangun.

Ketika perubahan iklim diperbincangkan saat ini, percakapan sering kali dimulai dengan hal-hal berskala besar: kesepakatan internasional, energi terbarukan, pasar karbon, inovasi teknologi, atau kebijakan pemerintah. Hal-hal tersebut tidak diragukan lagi kepentingannya. Namun, perubahan iklim juga merupakan masalah tentang bagaimana manusia memahami hubungan mereka satu sama lain. Hal ini memunculkan pertanyaan yang tampaknya sederhana: ketika suatu masalah berdampak pada semua orang, bagaimana kita belajar untuk bertindak secara kolektif?

Mungkin beberapa jawaban dapat ditemukan di tempat-tempat yang jarang kita anggap bersinggungan dengan politik atau lingkungan sama sekali.

Salah satunya adalah Nyadran.

Nyadran adalah tradisi komunal yang dipraktikkan di banyak masyarakat Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Biasanya diadakan pada bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, sebelum bulan Ramadan, tradisi ini umumnya melibatkan pembersihan makam leluhur, doa bersama, dan berbagi makanan melalui perjamuan komunal atau kenduri. Secara historis dan budaya, Nyadran sering digambarkan sebagai bentuk warisan agama dan budaya, yang dibentuk melalui perjumpaan panjang antara tradisi Jawa dan Islam.

Namun, memahami Nyadran hanya sebagai warisan budaya mungkin mengabaikan sesuatu yang penting. Di balik doa-doa, makanan, keranjang, dan perkumpulannya, terdapat cara tertentu dalam mengorganisasi kehidupan kolektif.

Sebagai contoh, saat Nyadran di Dusun Grojogan, Yogyakarta, warga berdatangan membawa besek, yaitu keranjang anyaman bambu yang berisi nasi dan beberapa lauk pauk. Keranjang-keranjang tersebut dikumpulkan sebelum doa bersama dimulai. Namun, hal menarik terjadi setelahnya. Sebagian makanan dari setiap sumbangan diambil dan disatukan kembali ke dalam keranjang-keranjang tambahan. Keranjang tambahan ini memungkinkan warga yang datang tanpa membawa makanan untuk tetap pulang dengan membawa besek.

Pengaturannya sederhana. Tidak ada yang berpidato tentang redistribusi. Tidak ada yang secara terbuka mengidentifikasi siapa yang menyumbang lebih banyak, siapa yang menyumbang lebih sedikit, atau siapa yang datang tanpa membawa apa-apa. Ketika acara selesai, warga cukup menerima keranjang dan pulang.

Praktik yang tampaknya biasa ini mengandung pelajaran penting tentang kesadaran kolektif.

Kehidupan kolektif tidak selalu harus dimulai dengan kesepakatan yang diungkapkan melalui kata-kata. Terkadang, hal itu dihasilkan melalui praktik-praktik berulang yang secara bertahap mengajarkan orang-orang tentang apa yang dianggap pantas, adil, dan perlu. Dalam Nyadran, masyarakat belajar bahwa membawa sesuatu ke dalam komunitas tidak selalu berarti menerima kembali hal yang sama persis. Makanan berpindah tangan. Kontribusi kehilangan kepemilikan individunya. Apa yang awalnya berstatus “milikku” untuk sementara berubah menjadi “milik kita.”

Prinsip yang sama dapat dilihat pada donasi sukarela yang dikumpulkan selama acara. Sumbangan diberikan secara anonim, tanpa pengakuan publik tentang siapa yang memberi apa. Uang tersebut umumnya digunakan untuk keperluan bersama, seperti merawat makam leluhur dan fasilitas umum.

Tidak perlu meromantisasi praktik ini. Nyadran tidak menghilangkan ketimpangan, menyelesaikan kemiskinan, atau secara otomatis menghasilkan komunitas yang berkelanjutan secara lingkungan. Sebuah tradisi berusia berabad-abad juga tidak seharusnya diubah secara artifisial menjadi kebijakan iklim hanya karena masyarakat kontemporer sedang mencari solusi lingkungan.

Relevansinya terletak di tempat lain.

Perubahan iklim pada dasarnya adalah masalah tindakan kolektif. Pilihan individu memang penting, tetapi dampaknya tetap terbatas jika institusi, pasar, komunitas, dan pemerintah terus beroperasi berdasarkan sistem yang menghargai konsumsi tanpa batas dan tanggung jawab individu semata. Meminta orang-orang untuk hanya sekadar menggunakan lebih sedikit kantong plastik, mematikan lampu, atau membeli produk ramah lingkungan memiliki batas efektivitasnya. Masalah lingkungan menuntut orang untuk menyadari bahwa sumber daya, risiko, dan tanggung jawab itu saling terhubung.

Nyadran memberikan gambaran kecil tentang seperti apa pemahaman semacam itu dalam praktiknya.

Di dalam ritual tersebut, kecukupan lebih penting daripada akumulasi. Kontribusi berputar, alih-alih tetap melekat pada kepemilikan individu. Orang yang memiliki lebih banyak dapat berkontribusi tanpa dirayakan sebagai dermawan, sementara orang yang memiliki lebih sedikit dapat menerima tanpa secara terbuka dilabeli sebagai penerima bantuan. Redistribusi menjadi bagian dari fungsi normal masyarakat, bukan sebuah tindakan amal yang luar biasa.

Tepat di sinilah Nyadran dapat masuk ke dalam percakapan kontemporer tentang perubahan iklim.

Krisis ekologis akan membutuhkan lebih dari sekadar teknologi hijau. Hal ini juga akan menuntut masyarakat yang mampu menerima batasan, berbagi beban, meredistribusi sumber daya, dan berpikir melampaui kepentingan individu jangka pendek. Kapasitas ini tidak bisa sekadar diciptakan lewat undang-undang. Hal ini harus ditumbuhkan secara sosial.

Oleh karena itu, tradisi lokal seperti Nyadran layak didekati tidak hanya sebagai objek yang perlu dilestarikan, difoto, dirayakan, atau dipromosikan sebagai pariwisata budaya. Tradisi ini juga dapat dibaca sebagai gudang pengetahuan sosial.

Tantangannya bukan untuk kembali ke masa lalu. Bukan pula untuk mengklaim bahwa masyarakat tradisional memiliki kebijaksanaan ekologis yang sempurna. Pertanyaan yang lebih produktif adalah prinsip sosial seperti apa yang tertanam dalam praktik-praktik ini yang tetap berguna untuk memikirkan masalah kontemporer.

Nyadran menawarkan satu kemungkinan jawaban: kesadaran kolektif dapat muncul ketika orang-orang berulang kali mengalami bahwa hidup bersama melibatkan lebih dari sekadar melindungi kepentingan individu. Ini juga melibatkan pengetahuan tentang kapan harus berkontribusi, kapan harus berbagi, kapan harus menahan diri, dan bagaimana memastikan bahwa orang lain tetap menjadi bagian dari kolektif.

Mungkin tindakan iklim juga dimulai dari sana.

Bukan sekadar dengan mengetahui bahwa bumi memanas, melainkan dengan memulihkan kemampuan untuk memahami bahwa apa yang kita miliki, konsumsi, lindungi, dan tinggalkan, selalu terhubung dengan orang lain.


Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

1000 Karakter tersisa

Related Articles

Related

Beyond Self-Interest: Gandeng-Gendong and the Social Logic of Reciprocity

Pesanan makanan dalam jumlah besar biasanya menjadi kabar baik bagi produsen skala kecil. Itu berarti tambahan penghasilan, peningkatan pekerjaan, pelanggan baru, dan—jika berjalan lancar—peluang untuk mengembangkan usaha yang umumnya hanya beroperasi di pasar sekitar lingkungan rumah. Respons intuitifnya tampak sederhana: ambil peluang tersebut, penuhi pesanan sebanyak mungkin, dan dapatkan keuntungan ekonominya. Bahkan ketika kapasitas produksi tidak mencukupi, solusi bisnis konvensional adalah menambah tenaga kerja, mengoper sebagian pekerjaan (subcontract), atau mencari pengaturan lain yang tetap memungkinkan produsen awal mengantongi sebagian nilai tambah dari pesanan tersebut.

Read More

Related

Gufron Rum : PBNU Perlu Memperkuat Tata Kelola Sosial dari Tingkat Mikro di Era Multiketidakpastian

Menghangatnya kontestasi kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar tidak hanya perlu dipandang sebagai pergantian figur Ketua Umum. Momentum tersebut menjadi ruang penting untuk membicarakan kembali tantangan organisasi NU dalam merespons perubahan sosial yang makin kompleks—mulai dari fragmentasi masyarakat, tekanan ekonomi, perkembangan teknologi, krisis lingkungan, hingga meningkatnya ketidakpastian global.

Read More

Related

Semangat Kemerdekaan Jadi Momentum Perkuat Kesejahteraan Psikologis Guru

Guru tangguh bukanlah guru yang dituntut untuk terus bertahan menghadapi tekanan tanpa batas. Ketangguhan guru harus dibangun bersama dengan kesejahteraan psikologis, dukungan lingkungan kerja, perlindungan, serta kesempatan untuk terus berkembang.

Read More