Di Luar Kepentingan Pribadi: Gandeng-Gendong dan Logika Sosial Saling-Bantu
Penulis: Nurul Rahayu
Editor: Gufron
Pesanan makanan dalam jumlah besar biasanya menjadi kabar baik bagi produsen skala kecil. Itu berarti tambahan penghasilan, peningkatan pekerjaan, pelanggan baru, dan—jika berjalan lancar—peluang untuk mengembangkan usaha yang umumnya hanya beroperasi di pasar sekitar lingkungan rumah. Respons intuitifnya tampak sederhana: ambil peluang tersebut, penuhi pesanan sebanyak mungkin, dan dapatkan keuntungan ekonominya. Bahkan ketika kapasitas produksi tidak mencukupi, solusi bisnis konvensional adalah menambah tenaga kerja, mengoper sebagian pekerjaan (subcontract), atau mencari pengaturan lain yang tetap memungkinkan produsen awal mengantongi sebagian nilai tambah dari pesanan tersebut.
Namun di Rejowinangun, sebuah kawasan pemukiman lama di sisi timur Yogyakarta, hal tersebut tidak selalu berjalan demikian. Seorang produsen yang menerima pesanan melebihi kapasitasnya bisa saja menyerahkan sebagian pesanan itu begitu saja kepada produsen lain di dekatnya. Sebuah keluarga yang menyiapkan acara pernikahan mungkin sengaja membeli jajanan dari tetangga sekitar daripada mencari pemasok paling murah atau paling praktis di tempat lain. Seseorang bahkan bisa merekomendasikan produk warga lain meskipun mereka menjual barang yang serupa. Dalam beberapa kasus, orang yang memberikan peluang tersebut tidak menerima pembayaran langsung, komisi, ikatan kontrak, ataupun keuntungan pribadi yang kasat mata.
Pertanyaannya adalah: mengapa?
Dari sudut pandang tindakan yang didorong kepentingan pribadi (self-interest), perilaku ini agak membingungkan. Jika peluang ekonomi itu langka dan berpotensi menguntungkan, mengapa secara sukarela membiarkan sebagian dari peluang itu mengalir ke orang lain? Mengapa membantu produsen lain mendapatkan penghasilan padahal peluang yang sama, setidaknya secara prinsip, bisa dipertahankan atau diubah menjadi keuntungan sendiri? Salah satu jawaban yang memungkinkan adalah bahwa keuntungannya hanya kurang terlihat. Mungkin kebaikan itu akan dibalas di lain waktu. Mungkin reputasi itu penting. Atau mungkin menolak untuk bekerja sama membawa risiko sosial. Penalaran pilihan rasional (rational-choice) dapat mengakomodasi semua kemungkinan ini, terutama ketika orang-orang saling bertemu secara berulang dan kerja sama di masa depan memiliki nilai.
Namun penjelasan itu mungkin masih terlampau lambat memulai analisisnya. Penjelasan tersebut mengasumsikan bahwa individu terlebih dahulu mengetahui apa kepentingan mereka, lalu mengkalkulasi apakah kerja sama dapat membantu mencapainya. Bagaimana jika hubungan antarmanusia melakukan hal yang lebih dari sekadar memberi insentif atau batasan? Bagaimana jika bertahun-tahun hidup bersama orang lain juga membentuk apa yang akhirnya dipahami individu sebagai sesuatu yang masuk akal, bermanfaat, atau layak dikejar?
Di sinilah istilah gandeng-gendong masuk dalam cerita.
Dalam bahasa Jawa, gandeng memunculkan citra bergandengan atau saling bertautan tangan, sementara gendong berarti menggendong seseorang. Bergabung menjadi satu, frasa ini menawarkan gambaran fisik dari kehidupan sosial: orang-orang bergerak maju sambil tetap terhubung, dan pada momen-momen tertentu seseorang membantu menggendong yang lain. Di Rejowinangun, gagasan ini tidak hanya hidup sebagai peribahasa. Hal ini dapat ditemukan dalam interaksi ekonomi dan sosial sehari-hari, terutama melalui praktik yang dikenal sebagai nglarisi.
Nglarisi secara kasar merujuk pada tindakan membantu barang dagangan seseorang agar laku. Seseorang mungkin membeli jajanan dari tetangganya, merekomendasikan masakan warga lain kepada kerabat yang sedang merencanakan pernikahan, atau mengalihkan pesanan ke produsen lokal. Di permukaan, ini adalah keputusan-keputusan kecil. Tidak ada satu pun dari tindakan ini yang secara mendasar mengubah perekonomian Yogyakarta. Namun jika diulang dari waktu ke waktu, keputusan-keputusan tersebut membantu menentukan ke mana uang berputar, bisnis siapa yang tetap bertahan, dan hubungan mana yang terus dianggap penting.
Menggambarkan hal ini semata-mata sebagai altruisme (sikap tidak mementingkan diri sendiri) akan menyesatkan. Orang-orang yang terlibat tetap mengejar penghasilan, menjaga mata pencaharian, memedulikan keluarga, dan membuat kalkulasi praktis. Mereka bukanlah pelaku ekonomi yang serta-merta lepas dari kepentingan pribadi. Yang tampak lebih khas adalah bahwa kepentingan mereka melekat (embedded) dalam tatanan sosial yang padat, di mana orang yang sama bertemu berulang kali dalam berbagai peran yang berbeda. Seorang produsen juga merupakan seorang tetangga, pelanggan, kerabat, peserta pengajian atau kegiatan warga, sumber informasi, dan mungkin seseorang yang bantuannya akan dibutuhkan kelak. Seorang pesaing bisnis bisa jadi memegang beberapa peran tersebut secara bersamaan.
Tumpang-tindih peran ini mengubah makna sebuah transaksi. Dua orang mungkin bersaing merebut pelanggan hari ini, tetapi dua orang yang sama dapat saling berbagi informasi besok, membantu mengorganisasi acara kampung bulan depan, dan saling bergantung bertahun-tahun kemudian. Pertemuan ekonomi tidak berakhir saat uang berpindah tangan; transaksi itu tetap melekat pada suatu hubungan sosial.
Hal ini tidak sepenuhnya asing bagi teori sosial modern. Para ekonom dan ilmuwan politik telah lama mempelajari repeated games (permainan berulang), reputasi, kepercayaan, resiprositas (timbal-balik), dan kerja sama dalam kondisi di mana para pelaku berharap akan bertemu lagi. Sosok homo economicus sendiri sering kali dikarikaturkan sebagai makhluk yang murni serakah, meskipun sebagian besar analisis ekonomi yang serius membuat asumsi yang lebih moderat: individu memiliki preferensi serta merespons insentif dan batasan. Pilihan rasional tidak menuntut manusia untuk menjadi egois secara moral.
Pertanyaan yang lebih menarik adalah apakah preferensi itu sendiri dapat dihitung sebagai hal yang mendahului interaksi sosial. Jika seorang produsen membagi pesanan karena ia mengharapkan balasan di kemudian hari, teori pilihan rasional tidak kesulitan menjelaskan keputusan tersebut. Namun jika interaksi berulang selama bertahun-tahun telah membentuk pemahamannya bahwa mengambil semuanya sendiri adalah tindakan yang tidak pantas, maka urutan analisisnya menjadi tidak lagi sederhana. Ia mungkin tidak memulai dengan preferensi yang kaku lalu mengkalkulasi nilai kerja sama. Pengalaman sosiallah yang telah mendahului dan memproduksi preferensi tersebut.
Ini adalah pembedaan kecil, tetapi membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar tentang Homo sapiens.
Titik awal yang berguna adalah observasi evolusioner dasar yang sering dirangkum—kadang terlalu disederhanakan—sebagai "survival of the fittest" (yang paling adaptif yang bertahan hidup). Dalam batas biologis dan antropologis, manusia, sebagaimana spesies lainnya, selalu hidup dalam kondisi sumber daya yang terbatas, di mana persaingan untuk mendapatkan makanan, wilayah, pasangan, dan keamanan tidak dapat dihindari. Dalam lingkungan seperti itu, kerja sama muncul bukan sebagai kebalikan dari persaingan, melainkan sebagai salah satu strateginya yang paling efektif. Kelompok yang mampu berkoordinasi, berbagi informasi, dan membangun aliansi sering kali mampu mengungguli kelompok yang tidak bisa melakukkannya.
Pada saat yang sama, kerja sama ini jarang sekali bersifat stabil secara permanen atau universal. Sejarah manusia berulang kali menunjukkan bahwa aliansi bergeser, koalisi pecah, dan kelompok yang pernah bekerja sama dapat terlibat konflik ketika kepentingan mereka berbenturan. Perang atas tanah, sumber daya, dan kekuasaan politik bukanlah pengecualian dalam perilaku manusia, melainkan pola yang berulang melintasi zaman. Bahkan dalam masyarakat kontemporer yang mengklaim dirinya "berperadaban", persaingan tetap ada—sebagian diwadahi dalam bentuk institusional seperti pasar, geopolitik, dan persaingan ekonomi, di mana para aktor diharapkan kooperatif secara internal namun sangat kompetitif secara eksternal.
Dari perspektif ini, Homo sapiens tidaklah sepenuhnya kooperatif dan tidak pula sepenuhnya egois. Manusia adalah organisme sosial yang sangat adaptif, yang perilakunya bergeser tergantung pada konteks, insentif, serta persepsi atas kelangkaan atau kelimpahan. Kerja sama dan konflik sama-sama merupakan alat untuk bertahan hidup, dan mana yang mendominasi sangat bergantung pada struktur lingkungannya.
Penjelasan populer kadang menyederhanakan ketegangan ini menjadi gagasan tentang "otak reptil" primitif yang berjuang melawan otak manusia modern yang lebih berperadaban. Ini adalah metafora yang mudah diingat, tetapi buruk secara biologi. Perilaku manusia tidak berasal dari lapisan evolusi rapi di mana sifat egois milik otak purba dan kerja sama milik otak baru. Organisme manusia yang sama mampu melakukan persaingan sekaligus keterikatan, kecurigaan sekaligus kesetiaan, pembalasan dendam sekaligus kedermawanan. Respons mana yang menjadi masuk akal sangat bergantung pada lingkungan tempat manusia tinggal.
Rejowinangun menawarkan contoh bersahaja tentang bagaimana lingkungan seperti itu dibentuk secara sosial. Warga terkadang menggambarkan tanggung jawab kolektif melalui ungkapan lain, disonggo bareng-bareng: beban dipikul bersama-sama. Frasa tersebut tidak berarti bahwa setiap beban benar-benar dibagi secara merata, atau bahwa semua orang berperilaku sesuai dengan idealisme tersebut. Ungkapan itu menyampaikan sebuah harapan tentang bagaimana kehidupan sosial seharusnya berjalan, dan harapan itu penting karena orang-orang menyimpan ingatan atas perilaku sesamanya.
Reputasi dengan demikian menjadi bagian dari ekosistem. Seseorang yang berulang kali mengambil keuntungan dari orang lain tetapi menolak untuk membalas kebaikan dapat menghadapi sanksi tak tertulis, yang berujung pada tergerusnya rasa percaya. Sebaliknya, seseorang yang dikenal suka membantu mungkin merasa lebih mudah mendapatkan informasi, bantuan, atau kerja sama di kemudian hari. Namun, mekanisme ini tidak boleh serta-merta dirayakan secara berlebihan. Kontrol sosial dapat melindungi komunitas, tetapi juga bisa memberikan tekanan. Harapan untuk membeli secara lokal dapat menyokong bisnis tetangga, namun di sisi lain membatasi pilihan individu. Jaringan sosial yang padat bisa merangkul sebagian orang sekaligus menyulitkan pendatang baru untuk masuk.
Ambivalensi ini penting karena gandeng-gendong menjadi kurang menarik jika hanya disajikan sebagai bukti bahwa masyarakat tradisional telah menemukan bentuk kehidupan sosial yang secara moral lebih unggul. Resiprositas dapat melanggengkan ketimpangan sebagaimana ia dapat meredistribusi kesempatan. Hubungan sosial membawa relasi kuasa sekaligus solidaritas. Nilai analitisnya terletak di tempat lain: yaitu menunjukkan bahwa perilaku manusia diorganisasi tidak hanya melalui aturan eksplisit dan insentif instan, melainkan juga melalui akumulasi harapan yang dibentuk oleh interaksi yang berulang.
Pandemi COVID-19 membuat beberapa bentuk hubungan ini menjadi lebih terlihat. Ketika aktivitas ekonomi terganggu, kebiasaan membeli dari tetangga, berbagi informasi, dan mengarahkan peluang secara lokal tidak perlu diciptakan dari nol. Kebiasaan itu sudah ada sebelumnya. Ini tidak berarti bahwa gandeng-gendong melindungi semua orang atau mampu menjelaskan ketahanan masyarakat secara tunggal. Rumah tangga bertahan melewati pandemi melalui banyak sumber daya yang berbeda, termasuk tabungan, pekerjaan, bantuan negara, dukungan keluarga, dan tingkat kerentanan yang tidak merata. Apa yang diungkapkan oleh krisis tersebut hanyalah bahwa hubungan sosial itu sendiri dapat berfungsi sebagai aset.
Observasi tersebut menjadi sangat relevan bagi kebijakan pembangunan. Pemerintah modern membutuhkan kategorisasi. Mereka menghitung rumah tangga, mendaftarkan penerima manfaat, mengidentifikasi usaha mikro, menghitung pendapatan, dan memetakan infrastruktur karena kebijakan publik tidak dapat beroperasi dalam skala besar hanya mengandalkan keakraban personal. Penyederhanaan administratif ini bukanlah sebuah kesalahan; itu adalah bagian dari tata kelola bertindak atas jutaan orang.
Rintangan muncul karena komunitas tidak selalu mengorganisasi diri mereka berdasarkan kategori-kategori administratif tersebut. Seorang "penerima manfaat" bisa jadi juga seorang penyedia pengasuhan informal. Seorang "pesaing" bisa jadi juga seorang rekan kolaborasi. Seorang "konsumen" bisa jadi sosok yang menopang mata pencaharian seseorang yang bantuannya akan ia butuhkan kelak. Oleh karena itu, kebijakan yang dirancang dengan unit analisis individu dapat meluputkan relasi-relasi sosial yang justru memengaruhi bagaimana sumber daya sebenarnya bersirkulasi.
Sebuah program mata pencaharian, misalnya, mungkin berhasil memperkuat usaha-usaha individual tetapi tanpa sengaja mengubah pola kerja sama di antara mereka. Sistem pengadaan barang/jasa mungkin menjadi lebih efisien tetapi menggeser permintaan keluar dari jaringan tetangga. Intervensi kemiskinan mungkin secara tepat mengidentifikasi rumah tangga rentan tetapi mengabaikan hubungan informal tempat makanan, tenaga kerja, informasi, dan kepedulian saling dipertukarkan. Tidak ada dari dampak ini yang mutlak terjadi, tetapi semuanya tetap sulit terlihat ketika unit analisisnya berhenti pada tingkat individu.
Di sinilah gandeng-gendong menawarkan sebentuk pemikiran kritis daripada sekadar solusi siap pakai. Konsep ini tidak menyarankan agar pemerintah mereplikasi praktik sosial Jawa ini di tempat lain, ataupun menuntut agar pengetahuan lokal secara otomatis mengalahkan keahlian formal. Ia mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah hubungan antarmanusia hanya sebatas latar belakang tempat individu mengejar kepentingannya, atau akankah hubungan itu sendiri turut membentuk kepentingan tersebut?
Perbedaan ini penting. Urutan konvensional mungkin dimulai dari individu, bergerak ke preferensi, lalu kalkulasi, dan berakhir pada interaksi. Rejowinangun menunjukkan bahwa alurnya juga bisa berjalan sebaliknya. Hubungan sosial menghasilkan pengalaman; pengalaman memproduksi harapan; harapan memengaruhi apa yang dianggap orang sebagai hal yang wajar atau bermanfaat; persepsi tersebut kemudian membentuk tindakan di masa depan, yang pada gilirannya memperbarui hubungan itu sendiri.
Dilihat dari sudut pandang ini, nglarisi menjadi lebih dari sekadar kebiasaan budaya. Ketika seseorang membeli jajanan dari tetangganya, beberapa dampak terjadi sekaligus. Pembeli mendapatkan produk, produsen memperoleh pendapatan, keterampilan lokal tetap lestari, uang berputar di sekitar lingkungan, dan sebuah hubungan kembali ditegaskan. Tidak ada satu pun dari dampak tersebut yang harus menjadi satu-satunya motif. Tindakan manusia dapat membawa beberapa motif dan beberapa konsekuensi secara bersamaan.
Inilah mengapa pertentangan akrab antara sifat egois dan altruisme mungkin menjadi kurang berguna dari yang dibayangkan. Pertanyaannya bukanlah apakah warga Rejowinangun telah melampaui kepentingan pribadi. Mereka tidak melampauinya, dan tidak ada alasan mereka harus melakukannya. Kemungkinan yang lebih menarik adalah bahwa kepentingan pribadi itu sendiri sebagian bersifat sosial: dibentuk oleh ingatan, harapan, rasa memiliki, dan saling ketergantungan.
Seseorang mungkin mendukung produsen lain karena melakukan hal itu menjaga hubungan yang mungkin memberi manfaat baginya kelak. Ia mungkin juga melakukannya karena bertahun-tahun hidup dalam dunia sosial yang sama telah membuat tindakan tersebut terasa sebagai hal yang lumrah. Batas antara resiprositas strategis dan kewajiban sosial yang dipelajari tidak selalu jelas, bahkan bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Dan mungkin, batas itu memang tidak perlu dibuat terlalu jelas.
Apa yang diungkapkan oleh gandeng-gendong bukanlah tentang masyarakat yang berada di luar kepentingan pribadi, melainkan sebuah tatanan di mana batas-batas kepentingan pribadi itu terus-menerus dinegosiasikan. Kesejahteraan orang lain dapat menjadi relevan bagi keamanan diri sendiri, bukan karena individu berhenti memedulikan dirinya sendiri, melainkan karena hubungan berulang membuat pemisahan mutlak antara "kepentinganku" dan "kepentinganmu" menjadi semakin sulit dilakukan.
Bagi Homo sapiens, hal itu mungkin bukanlah sesuatu yang asing.
Pertanyaan yang lebih besar dengan demikian bukanlah apakah manusia pada dasarnya egois atau kooperatif. Kedua kecenderungan itu sangat mudah ditemukan. Pertanyaan yang lebih berguna adalah lingkungan sosial seperti apa yang mengajarkan manusia tentang siapa yang perlu dipertimbangkan, apa yang layak dihargai, dan di mana batas-batas keuntungan pribadi harus ditarik.
Di Rejowinangun, pesanan makanan yang diteruskan ke produsen lain hanyalah sebuah peristiwa kecil. Begitu pula keputusan untuk membeli dari tetangga atau merekomendasikan seseorang yang menjual produk serupa. Namun keputusan-keputusan kecil seperti itu, jika diulang selama bertahun-tahun, menjadi bagian dari lingkungan tempat keputusan masa depan dibuat. Semua itu tidak menghapuskan kepentingan pribadi.
Semua itu membantu mendefinisikannya.